MEKANISME REAKSI SUBSTITUSI NUKLEOFILIK SN2


Kimia organik dapat didefinisikan sebagai kimia senyawa karbon. Namun definisi ini tidak terlalu tepat karena beberapa senyawa karbon, seperti karbon dioksida, natrium karbonat, dan kalium sianida, dianggap sebagai anorganik. Tetapi, definisi ini tetap diterima, karena semua senyawa organik tersebut mengandung karbon.

Reaksi Substitusi
Ada beberapa reaksi yang dapat terjadi dalam kimia organik, salah satunya adalah reaksi substitusi. Reaksi substitusi adalah reaksi dimana terjadi pertukaran atau penggantian yang melibatkan atom atau gugus atom dari suatu senyawa yang satu dengan atom atau gugus atau dengan suatu senyawa yang lain. Secara umum reaksi substitusi dapat dinyatakan sebagai berikut :
R – H  +  X2       R – X   +   H – X
Sebagai contoh reaksi substitusi adalah sebagai berikut :
CH3CH3  +  Cl2        CH3CH2Cl  +  HCl
Berdasarkan pereaksi yang digunakan, reaksi substitusi dapat dibedakan menjadi tiga yaitu, reaksi substitusi radikal bebas, reaksi substitusi nukleofilik, dan reaksi substitusi elektrofilik. Pada pembahasan kali ini, hanya akan dijelaskan terkait substitusi nukleofilik.

Reaksi Substitusi Nukleofilik
            Reaksi substitusi nukleofilik adalah suatu kelompok dasar dalam reaksi substitusi dimana terdapat sebuah nukleofil yang merupakan spesi yang menyukai spesi yang bermuatan positif dan pada umumnya nukleofil ini berupa anion (spesi yang bermuatan negatif). Reaksi substitusi nukleofilik juga dapat didefinisikan sebagai suatu reaksi substitusi dimana terdapat sebuah nukleofil yang akan berikatan atau menyerang muatan positif dari sebuah gugus kimia atau atom. Gugus kimia atau atom yang diserang tersebut dapat juga disebut dengan gugus lepas atau gugus pergi. Gugus lepas sendiri adalah atom yang dapat lepas atau pergi dengan membawa sepasang elektron. Terdapat dua persamaan umum yang dapat dituliskan yaitu sebagai berikut:

Ketika terjadi penyerangan antara suatu nekleofil yang diibaratkan dengan tanda (Z:) dengan alkil halida (R-X) yang berada pada atom karbon hibrida-sp3 yang mengikat halogen (X). Maka halogen (X) tersebut akan terusir yang disebabkan penyerangan oleh nukleofil. Halogen yang terusir oleh nukleofil itulah yang disebut dengan gugus lepas atau gugus pergi. Nukleofil yang menyerang harus memiliki pasangan elektron bebas (PEB). Hal ini menyebabkan kemungkinan dimana gugus lepas atau gugus pergi akan terlepas dengan membawa elektron yang tadinya sebagai elektron ikatan. Nukleofil yang melakukan penyerangan dapat dapat berupa bermuatan listrik negatif ataupun bermuatan netral, sedangkan substrat atau alkil halida yang diserang biasanya bermuatan netral atau bermuatan positif.
Adapun contoh masing-masing reaksi untuk dua persamaan umum diatas adalah sebagai berikut:




Reaksi substitusi nukleofilik merupakan reaksi yang sangat umum dapat dijumpai pada kimia organik. Reaksi ini dapat dikelompokkan sebagai reaksi yang terjadi pada karbon alfatik atau karbon aromatik atau karbon tak jenuh lainnya.

Mekanisme Reaksi Substitusi Nukleofilik
Dalam reaksi substitusi nukleofilik terdapat 2 mekanisme substitusi nukleofilik yang dilambangkan dengan SN2 dan SN1. Namun yang akan dibahas disini hanyalah seputar mekanisme substitusi nukleofilik SN2.

Mekanisme Reaksi Substitusi Nukleofilik SN2
Reaksi SN2 ini terjadi ketika salah satu ikatan terputus dan ikatan lainnya akan terbentuk secara bersamaan atau bisa didefinisikan sebagai suatu mekanisme reaksi yang hanya melalui proses satu tahapan. Reaksi ini sangat umum sehingga memiliki bermacam-macam nama salah satunya “substitusi nukleofilik bimolekular”. Notasi 2 pada SN2 menyatakan bahwa reaksi ini adalah bimolekuler, yaitu terdapat dua molekul diantaranya nukleofil dan substrat yang terlibat dalam langkah penentu kecepatan reaksi dalam mekanisme reaksi.  
Reaksi ini terjadi pada sp3 alifatik yang berikatan dengan suatu gugus lepas atau gugus pergi yang bersifat elektronegatif dan stabil, biasanya terdapat suatu atom halida yang menempel padanya (biasanya ditulis X). Melalui keadaan transisi terjadi pemutusan ikatan C-X dan pembentukan ikatan baru yang terjadi secara simultan. Mekanisme SN2 dapat digambarkan sebagai berikut :
 
Terjadi peristiwa penyerangan oleh nukleofil (ditandai dengan Z) terhadap bagian belakang ikatan C-X. Ketika keadaan transisi, nukleofil dan gugus lepas akan berasosiasi bersama karbon dan substitusi akan terjadi. Nukleofil akan memberikan pasangan elektronnya untuk dijadikan pasangan elektron dengan karbon. Peristiwa ini terjadi pada saat gugus lepas terlepas dengan membawa pasangan elektron. Ada beberapa ciri suatu nukleofil dan substrat yang bereaksi dengan mekanisme SN2 yaitu sebagai berikut: 
1.  Kecepatan mekanisme reaksi bergantung pada konsentrasi kedua pereaksi tersebut, hal ini disebabkan karena nukleofil dan substrat terlibat dalam reaksi.
2.    Reaksi akan terjadi terjadi lebih cepat apabila R merupakan gugus metil atau primer, dan lambat jika R adalah gugus tersier hal itu terjadi jika substrat R-X bereaksi melalui mekanisme SN2.
 

Permasalahan

1.    Jika substrat R-X bereaksi melalui mekanisme SN2 maka reaksi akan terjadi lebih cepat apabila R merupakan gugus metil atau primer. Mengapa hal tersebut dapat terjadi?
2.   Kecepatan mekanisme reaksi bergantung pada konsentrasi kedua pereaksi yaitu, nukleofil dan substrat terlibat dalam reaksi. Bagaimana pengaruh konsentrasi keduanya terhadap kecepatan mekanisme reaksi SN2 tersebut?
3.   Mengapa reaksi substitusi nukleofilik juga sering disebut dengan reaksi substitusi bimolekular?

 
 


Komentar

  1. Saya infirna fii dinillah dengan Nim A1C117008 akan menjawab permasalahan pertama.
    Jika substrat R-X bereaksi melalui mekanisme SN2, reaksi terjadi lebih cepat apabila R merupakan gugus metil atau primer, dan lambat jika R adalah gugus tersier. Gugus R sekunder mempunyai kecepatan pertengahan. Alasan untuk urutan ini adalah adanya efek rintangan sterik. Rintangan sterik gugus R meningkat dari metil < primer < sekunder < tersier. Rintangan sterik adalah jalan ruang dalam struktur-struktur. Bila gugus-gugus besar berjejalan dalam suatu ruang sempit, tolak-menolak antara gugus bertambah parah dan arena itu energy system tinggi. Dalam suatu reaksi SN2 energi suatu keadaan transisi yang berjejal lebih tinggi daripada energy keadaan transisi dengan rintangan sterik pindah. Karena inilah maka laju reaksi makin menurun dalam deret metil, primer, sekunder dan tersier. Jadi kecenderungan reaksi SN2 terjadi pada alkil halida adalah: metil > primer > sekunder >> tersier.

    BalasHapus
  2. Saya Sulviana Putri dengan NIM A1C117074 akan mencoba menjawab permasalahan kedua.
    Kecepatan mekanisme reaksi dipengaruhi oleh beberapa variabel yang mana salah satunya adalah konsentrasi pereaksi. Jika konsentrasi peseaksinya besar atau bertambah maka kecepatan mekanisme reaksinya akan bertambah atau bisa dibilang besar, jika konsentrasi pereaksinya kecil atau berkurang maka kecepatan mekanisme reaksinya akan berlangsung lambat. Perlu kita ketahui bahwa kecepatan mekanisme reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi-konsentrasi kedua peseaksinya. Oleh sebab itu jika suatu konsentrasi nilainya besar atau bertambah maka akan menambah kecepatan mekanisme reaksinya.

    BalasHapus
  3. Assalamu'alaikum wr wb
    Nama saya maratul hasanati NIM A1C117032
    Saya akan mencoba menjawab permasalahan ketiga
    Karena Reaksi SN2 adalah suatu jenis mekanisme reaksi substitusi nukleofilik dalam kimia organik. dimana dalam mekanisme ini terdapat salah satu ikatan terputus dan satu ikatan lainnya terbentuk secara bersamaan, dalam satu tahapan reaksi. Karena dua spesi yang bereaksi terlibat dalam suatu tahapan yang lambat (tahap penentu laju reaksi), hal ini mengarah pada nama substitusi nukleofilik (bi-molekular) atau SN2.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEKANISME REAKSI SUBSTITUSI NUKLEOFILIK SN1

MEKANISME REAKSI ELIMINASI E2